Saya layak acungi jempol untuk cerpen bung Agus Noor. Walaupun bahasanya terlalu datar, tapi bisa membuat hati terbahak membaca keluguan dan kelucuan tokoh si miskin. Pesan moral yang dibenamkan sangat kuat dan mendetail. Saya jadi lebih tahu tentang fenomena fiktif orang miskin yang bahagia. Kebayakan orang miskin pasti tertekan mentalnya karena beban ekonomi dan finansial. Dalam cerpen ini saya membaca si miskin malah bangga dengan statusnya sebagai kaum papa. Menarik untuk di cermati dan ini penemuan baru, jika dalam kehidupan nyata ada orang miskin yang berbangga hati tentang statusnya. Saya masih bingung tentang pelaku ‘saya’ dalam cerpen, orang yang melihat keseharian si miskin nampaknya pribadi yang berada/mampu ya? Perihal Orang Miskin yang Bahagia 1. “AKU sudah resmi jadi orang miskin,” katanya, sambil memperlihatkan Kartu Tanda Miskin, yang baru diperolehnya dari kelurahan. “Lega rasanya, karena setelah bertahun-tahun hidup miskin, akhirnya mendapat pengakuan ...
Apa yang saya tulis mungkin adalah isi kepala saya tapi bukan isi hati saya