Langsung ke konten utama

Cantik itu Luka



When reading, we don't fall in love with the characters' appearance. we fall in love with their words, their thoughts, and their hearts. we fall in love with their souls.

Semua wanita ingin cantik. Itu adalah keinginan yang paling sederhana di dunia ini bagi seorang wanita. Barulah kemudian, impian kedua mereka adalah menjadi seorang pengantin. Memang terlihat sederhana walau sebenarnya untuk mendapatkan hal itu melalui serangkaian hal yang rumit. Nah, kerumitan inilah yang bikin wanita memiliki julukan sebagai “mahkluk paling ribet”. 

Telah dua puluh tahun berlalu sejak kematiannya, ketika Dewi Ayu bangkit dari kuburnya dan berjalan kembali menuju rumah yang dahulu dihuninya bersama Roshina, tempat dimana ia meninggalkan anak terakhirnya yang ia tinggal mati atas kehendaknya sendiri. Dewi Ayu memang menginginkan kematian, sampai-sampai ia sengaja berbaring terlentang berbalutkan kain kafan untuk menunggu waktu kematiannya, dan sepertinya pemilik alam semesta mengabulkan keinginannya dihari ke dua belas saat ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dewi Ayu punya kehidupan yang kusebut ajaib di Halimunda, desa tempat Ia dilahirkan dari ayah belanda dan ibu campuran indonesia, yang notabene adalah saudara seayah yang saling jatuh cinta dan melahirkan Dewi Ayu. Dewi Ayu tak pernah meninggalkan Halimunda, bahkan setelah Jepang datang dan memaksa seluruh keluarga Belanda dan keturunannya untuk pulang ke negeri mereka sendiri. Dewi Ayu sangat cantik, banyak pria yang berahi melihatnya, mereka menginginkan satu malam bercinta dengannya dan melakukan apapun yang pernah mereka bayangkan. Didesak oleh keadaan sebagai tahanan, diusia yang masih relatif muda, Dewi Ayu terpaksa menjalani hidup sebagai pelacur di rumah Mama Kalong, bekerja melayani tentara Jepang memenuhi kebutuhan badaniah mereka. Sebagai seorang pelacur, Dewi Ayu sangat terkenal dan merupakan yang paling mahal di Halimunda. Berhubungan badan dengan begitu banyak orang, Dewi Ayu melahirkan putri-putri yang tak pernah tahu siapa ayah mereka. Ketiga putri Dewi Ayu pun mewarisi kecantikan ibunya yang sejak dini sudah terlihat dan banyak orang menantikan mereka bertumbuh menjadi gadis sempurna yang siap untuk ditiduri. Dewi Ayu cukup kesal melihat kehidupan ketiga putrinya yang selalu bersinggungan dengan lelaki, menggoda mereka, bahkan membuat pria-pria patah hati dengan sengaja, Ia tahu kecantikan mereka suatu saat akan berakibat buruk bagi mereka sendiri. Sehingga ketika ia tahu kalau ia mengandung anak keempat, Ia berdoa supaya anak dalam kandungannya diberikan wajah yang sangat jelek. Ia membayangkan hidung seperti colokan listrik, telinga serupa panci, kulit hitam legam seperti arang sisa bakaran dan itulah yang terjadi ketika ia melahirkan putri keempatnya, dua belas hari sebelum ia meninggal. Anak terakhirnya itu diberi nama Cantik.

Kasar, gelap, melankolis dan penuh adegan seksual. Kira-kira begitulah pikiran yang seketika muncul setelah membaca blurb Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan.

Cantik Itu Luka diceritakan dengan alur maju-mundur dan sudut pandang orang ketiga. Gaya bercerita yang seolah ingin menonjolkan kepiawaian Eka Kurniawan dalam berkisah. Gaya bercerita yang hingga saat ini sulit saya temukan di tulisan-tulisan orang lain. Cepat, lugas, jelas dan halus.

Dalam buku setebal lebih dari 400 halaman ini, terlahir cantik dalam masyakat pun tidak mudah. Mostly wanita tidak suka ada wanita lain yang lebih cantik dari dirinya, sedangkan laki-laki hanya ingin tidur dengannya.

Hal lain yang membuat saya salut adalah cara penggambaran ini tidak terjebak pada tokoh-tokoh sentral. Semua tokoh yang terlibat dalam cerita ini diceritakan dan memiliki porsi dalam menyusun kisah. Dengan penggambaran tersebut, pembaca diajak untuk menyimak setiap petualangan, konflik dan dilema yang dihadapi setiap tokoh. Saya curiga, semua penggambaran ini dimaksudkan Eka untuk ‘menertawakan’ kemalangan tokoh. Dan jika ditarik ke kehidupan nyata, Eka berusaha mengajak pembaca untuk menertawakan kemalangannya sendiri. Menertawakan bukan sebagai suatu hal yang ‘sakit’ atau ‘gila’. Tetapi sebagai suatu cara untuk merespon hal yang ‘memang begitu adanya’ – satir.



Buku ini cocok untuk mereka yang ingin menikmati kisah-kisah pasca-kolonial dengan cara yang tidak biasa. Buku ini juga cocok untuk pembaca yang mendambakan cerita yang tidak mudah ditebak. Jika kamu sedang mencari pengalaman membaca yang berbeda, boleh jadi buku ini akan memuaskan pencarianmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gara-Gara Ojek online

Guys,   Kamu jangan pernah ngeremehin kebaikan km sekecil apa pun.   Karena sekecil apa pun kebaikan km pasti bermanfaat buat orang lain.   Beberapa waktu yg lalu di stasiun, saya pernah disamperin sama seorang cewek. Dia minta tolong ke saya buat mesenin kendaraan online kerena hp nya kehabisan batere. Waktu itu yg ada di pikiran saya cuma, ya kasihan, udah malem, sendirian, perempuan, sedikit gerimis, dan dia mau pulang.   Langsung saya pesenin dan ngk lama langsung dapet driver.   Dia keliatan seneng dan bisa pulang. Bukannya saya nginget-nginget kebaikan saya sendiri ya, tp intinya kalo baik ya nggak usah mikir dua kali. Karena km nggak pernah tau kapan km ada di posisi yang mungkin perlu bantuan orang lain. Tp waktu km nggak dapetin sesuai sama apa yg udah km lakuin, km juga tetep harus baik. Intinya ambil yang baik-baiknya aja.  Because you are better than you think. Jadi pas km ngerasain hal yg nggak baik, km bakalan senyum-senyum aja....