Bagiku Reza Irfan adalah impian yang ingin aku raih. Refan demikian
panggilannya. Dia adalah insan yang terlahir dengan paras rupa yang
terlalu istimewa, wajar jika setiap wanita jatuh hati kepadanya. Aku pun
merasa demikian.
Pilihlah aku jadi pacarmu
Yang pasti setia mendampingimu
Jangan kau salah pilih yang lain
Yang lain belum tentu, setia…
Jadi pilihlah aku!
Sebuah pagi indah yang penuh warna, ditemani alunan lagu yang menjadi original soundtrack kisah kasihku dengan Refan. Lagu itu selalu menemani hari-hariku terutama disaat aku merindukan Refan.
Dua hari aku tidak melihat Refan, rasa rindunya setengah mati. Kemana pergi si tampan itu? Selalu terbayang saja senyuman manisnya di café hari itu saat terakhir bertemu. Aku tidak meragui lagi semua perasaan yang berbunga di hatiku, I’m in love with Refan!.
Lima belas menit sebelum jam makan siang tepatnya, niatku sudah kubulatkan. Tidak akan ada lagi yang bisa menghalangi keinginanku, untuk meluahkan segala rasa dan isi hatiku terhadap Refan. Aku berhenti di depan pintu ruang kerja Refan. Kuhela nafas panjang sebelum mengetuk daun pintu di depanku, namun niatku terhenti saat itu juga, saat menyadari papan nama yang di pintu yang bertuliskan nama pemilik ruangan itu lenyap entah kemana. Saat dengan cemas kubuka, ruangan itu telah dikosongkan. Oh, My God… Refan resign?? Terkejutku dalam hati. Pertama dalam hidupku, harus menerima kenyataan kehilangan seseorang, tanpa dia tahu bahwa aku telah memendam berjuta perasaan sayang dan cinta terhadapnya. Sungguh hatiku lara akhirnya.
Seminggu dengan cepat berlalu, aku banyak menghabiskan waktuku di café yang setiap sudutnya menyimpan wajah Refan. Namun apa yang aku dapat hanyalah kehampaan, Refan bagai lenyap entah kemana. Aku memang tidak ada cara lain untuk mendapatkan cintaku, nomor hp yang pernah Refan dial dulu adalah harapanku. Nomor itu tanpa sengaja masih tersimpan.
“Boleh saya tahu, apa Bapak kenal dengan Refan?” Tanyaku saat seorang lelaki menjawab disana.
“Aku Refan yang kamu cari, Rin!” Pengakuan disana begitu mengejutkanku. Tiba-tiba ada desiran hebat mengalir dalam tubuhku, sejuk terasa di hatiku.
“Fan…!” Ucapku tergugup.
“Aku minta maaf sama kamu Rin, karena aku nggak pamit waktu aku mau berhenti kerja. Sebenarnya waktu terakhir ketemu kamu di Café hari itu aku mau mengatakannya, tapi aku ngga tau harus mulai dari mana, karena aku nggak pasti kalau kepergianku akan berarti buat kamu atau nggak. Jadi dengan terpaksa aku men-dial nomorku sendiri. Niat ku cuma satu, kalau kamu nanti mencari aku bisa menelpon aku dengan nomor itu, ternyata dugaanku bener…” Refan akhirnya membuat pengakuan yang membuat bibirku senyum.
“Kenapa kamu berpikir aku akan mencari kamu, Fan?” Tanyaku bahagia.
“Maaf jika aku salah menilai, yang aku rasa selama ini kamu coba mencuri perhatianku. Benarkah itu Rin??” Refan menegasiku, lidahku kelu untuk menjawabnya.
“Kok, diam! Apa aku salah menilai ya, Rin?” Ucap Refan di tengah kebisuanku.
“Tidak sih, Fan! Kamu emang benar, aku memang sebenarnya sudah lama pengen bilan bahwa aku... Aku mencintai kamu, Fan! Aku minta maaf ya, seandainya pengakuanku ini menyakiti hati kamu, karena aku hanya mau jujur dengan perasaanku sendiri!”
“Rin, kamu nggak perlu minta maaf. Sebaliknya aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku juga sudah lama kehilangan kepercayaan terhadap wanita. Tidak perlu rasanya aku menceritakan masa laluku yang kelabu itu, tapi sayangnya saat ini, aku juga belum siap ternyata untuk menerima kamu atau siapapun dalam hidupku. Hatiku masih terlalu sakit mengingat masa laluku, jadi aku harap kamu ngerti perasaanku, Rin!”
“Iya, Fan ! Aku akan coba mengerti, buatku menyatakan perasaanku ini saja kepada kamu itu sudah lebih dari pada cukup, tapi yang aku tidak habis pikir, kenapa kamu harus berhenti bekerja, Fan?”
“Sekarang aku sedang berada di Boarding Pass Soekarno Hatta, sebentar lagi aku akan terbang ke Kuala Lumpur, Malaysia, aku diterima bekerja di sana, Rin!” Penjelasan Refan hanya membuatku mampu menghela nafas dalam. Kenyataan itu memang sangat menyesakkan dadaku.
“Aku pasti akan menemui kamu jika kembali, anggaplah ini sebagai janjiku sama kamu !” Ucap Refan masih di sana coba menenangkan hatiku dengan ucapannya.
“Bener ya, Fan! Aku tunggu kepulangan kamu! Jaga diri kamu baik-baik ya!” Pesanku meskipun terasa getir kuucapkan juga.
“Kamu juga, Rin! Janga nakal-nakal… Hehehe… Semoga suaatu hari nanti hatiku bisa terbuka untuk kamu ya…!” Ucapan Refan itu membuatku tersenyum, suka bergurau juga dia rupanya. Sifat nakalku pun akhirnya muncul…
“Fan, can you give me a kiss before you go? Please…!” Aku memberanikan diri mengatakan itu, karena tak mampu lagi menahan gelora di hatiku.
“Errm, why not? Muaahhhhh…..Muaahhhh…”
“Thank you, my dear….!”
Akhirnya aku terpesona, menerima ciuman mesra dari Refan, seolah bibir manisnya baru saja menempel di pipiku. Aku jadi tersenyum lebar… Kutersanjung!
Lega rasanya semua yang ada di hatiku sudah terungkapkan. Walaupun cintaku terhadap Refan adalah sebuah cinta terlarang, tapi jujur semua itu terlahir begitu saja dari hatiku yang paling dalam. Itulah rahasia hati seorang lelaki yang bernama RINTO HADI KUNTOYO, nama lengkapku!
Aku masih merenung kearah Si Ganteng Refan ketika Kuntilanak Kesiangan
bernama Rima datang mengusik lamunanku. Walaupun hati kecilku menolak,
aku harus rela makan siangku ditemani oleh rekan sekantorku yang tidak
pernah mau berhenti berbicara itu.
Seperti julukkannya, Rima mulai berkata yang bukan-bukan tentang Refan, saat ia menyadari keberadaan pujaan hatiku itu disalah satu sudut Café Cinta.
“Rin, aku heran banget deh sama Refan, segitu kerennya kok masih single-mingle aja ya?” Usik Rima kepadaku.
“Mungkin dia belum nemuin cewek idamannya kali!” Kataku sekenanya saja.
“Kurang cantik apanya sih aku ini, Rin? Lagian cewek di kantor kita, sudah banyak banget lho yang direject sama dia. Kalo aku rasa sih, Refan itu udah mati rasa sama yang namanya perem…!”
“Ssstt…Rim, tuh lihat! Dia datang ke sini…!” Aku memotong ucapan Rima, saat kusadari Refan menghampiri tempat duduk kami.
“Rin, sorry ya, ngeganggu nih!? Boleh ngga ya aku pinjam hp kamu, bentar aja!? Aku ada emergency call nih, penting banget!” Refan mengutarakan maksudnya tiba-tiba padaku. Tanpa pikir panjang aku sodorkan saja nokia-ku kepadanya.
“Kalau mau pakai hp aku juga gak pa-pa kok, masih banyak lagi pulsanya nih!” Ucap Rima dengan perasaan nerveous yang kulihat dari wajahnya.
“Terima kasih Rim, pakai hp ini aja! Sebentar ya, Rin!”Refan menolak tawaran Rima dengan mempertontonkan senyuma manisnya, yang selalu membuatku mabuk kepalang.
Mahluk menawan itu pun kembali ketempat dimana tadi dia duduk. Entah siapa yang di telponnya disana. Aku hanya merasa hati kecilku jadi melonjak kegirangan. Ternyata Refan masih mengakui keberadaanku, setelah begitu lama sikapnya acuh tak acuh. Mungkin semua itu jawaban dari kesabaran yang selama ini aku lalui. Bunga di hatiku mulai berputik.
Seperti julukkannya, Rima mulai berkata yang bukan-bukan tentang Refan, saat ia menyadari keberadaan pujaan hatiku itu disalah satu sudut Café Cinta.
“Rin, aku heran banget deh sama Refan, segitu kerennya kok masih single-mingle aja ya?” Usik Rima kepadaku.
“Mungkin dia belum nemuin cewek idamannya kali!” Kataku sekenanya saja.
“Kurang cantik apanya sih aku ini, Rin? Lagian cewek di kantor kita, sudah banyak banget lho yang direject sama dia. Kalo aku rasa sih, Refan itu udah mati rasa sama yang namanya perem…!”
“Ssstt…Rim, tuh lihat! Dia datang ke sini…!” Aku memotong ucapan Rima, saat kusadari Refan menghampiri tempat duduk kami.
“Rin, sorry ya, ngeganggu nih!? Boleh ngga ya aku pinjam hp kamu, bentar aja!? Aku ada emergency call nih, penting banget!” Refan mengutarakan maksudnya tiba-tiba padaku. Tanpa pikir panjang aku sodorkan saja nokia-ku kepadanya.
“Kalau mau pakai hp aku juga gak pa-pa kok, masih banyak lagi pulsanya nih!” Ucap Rima dengan perasaan nerveous yang kulihat dari wajahnya.
“Terima kasih Rim, pakai hp ini aja! Sebentar ya, Rin!”Refan menolak tawaran Rima dengan mempertontonkan senyuma manisnya, yang selalu membuatku mabuk kepalang.
Mahluk menawan itu pun kembali ketempat dimana tadi dia duduk. Entah siapa yang di telponnya disana. Aku hanya merasa hati kecilku jadi melonjak kegirangan. Ternyata Refan masih mengakui keberadaanku, setelah begitu lama sikapnya acuh tak acuh. Mungkin semua itu jawaban dari kesabaran yang selama ini aku lalui. Bunga di hatiku mulai berputik.
Pilihlah aku jadi pacarmu
Yang pasti setia mendampingimu
Jangan kau salah pilih yang lain
Yang lain belum tentu, setia…
Jadi pilihlah aku!
Sebuah pagi indah yang penuh warna, ditemani alunan lagu yang menjadi original soundtrack kisah kasihku dengan Refan. Lagu itu selalu menemani hari-hariku terutama disaat aku merindukan Refan.
Dua hari aku tidak melihat Refan, rasa rindunya setengah mati. Kemana pergi si tampan itu? Selalu terbayang saja senyuman manisnya di café hari itu saat terakhir bertemu. Aku tidak meragui lagi semua perasaan yang berbunga di hatiku, I’m in love with Refan!.
Lima belas menit sebelum jam makan siang tepatnya, niatku sudah kubulatkan. Tidak akan ada lagi yang bisa menghalangi keinginanku, untuk meluahkan segala rasa dan isi hatiku terhadap Refan. Aku berhenti di depan pintu ruang kerja Refan. Kuhela nafas panjang sebelum mengetuk daun pintu di depanku, namun niatku terhenti saat itu juga, saat menyadari papan nama yang di pintu yang bertuliskan nama pemilik ruangan itu lenyap entah kemana. Saat dengan cemas kubuka, ruangan itu telah dikosongkan. Oh, My God… Refan resign?? Terkejutku dalam hati. Pertama dalam hidupku, harus menerima kenyataan kehilangan seseorang, tanpa dia tahu bahwa aku telah memendam berjuta perasaan sayang dan cinta terhadapnya. Sungguh hatiku lara akhirnya.
Seminggu dengan cepat berlalu, aku banyak menghabiskan waktuku di café yang setiap sudutnya menyimpan wajah Refan. Namun apa yang aku dapat hanyalah kehampaan, Refan bagai lenyap entah kemana. Aku memang tidak ada cara lain untuk mendapatkan cintaku, nomor hp yang pernah Refan dial dulu adalah harapanku. Nomor itu tanpa sengaja masih tersimpan.
“Boleh saya tahu, apa Bapak kenal dengan Refan?” Tanyaku saat seorang lelaki menjawab disana.
“Aku Refan yang kamu cari, Rin!” Pengakuan disana begitu mengejutkanku. Tiba-tiba ada desiran hebat mengalir dalam tubuhku, sejuk terasa di hatiku.
“Fan…!” Ucapku tergugup.
“Aku minta maaf sama kamu Rin, karena aku nggak pamit waktu aku mau berhenti kerja. Sebenarnya waktu terakhir ketemu kamu di Café hari itu aku mau mengatakannya, tapi aku ngga tau harus mulai dari mana, karena aku nggak pasti kalau kepergianku akan berarti buat kamu atau nggak. Jadi dengan terpaksa aku men-dial nomorku sendiri. Niat ku cuma satu, kalau kamu nanti mencari aku bisa menelpon aku dengan nomor itu, ternyata dugaanku bener…” Refan akhirnya membuat pengakuan yang membuat bibirku senyum.
“Kenapa kamu berpikir aku akan mencari kamu, Fan?” Tanyaku bahagia.
“Maaf jika aku salah menilai, yang aku rasa selama ini kamu coba mencuri perhatianku. Benarkah itu Rin??” Refan menegasiku, lidahku kelu untuk menjawabnya.
“Kok, diam! Apa aku salah menilai ya, Rin?” Ucap Refan di tengah kebisuanku.
“Tidak sih, Fan! Kamu emang benar, aku memang sebenarnya sudah lama pengen bilan bahwa aku... Aku mencintai kamu, Fan! Aku minta maaf ya, seandainya pengakuanku ini menyakiti hati kamu, karena aku hanya mau jujur dengan perasaanku sendiri!”
“Rin, kamu nggak perlu minta maaf. Sebaliknya aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku juga sudah lama kehilangan kepercayaan terhadap wanita. Tidak perlu rasanya aku menceritakan masa laluku yang kelabu itu, tapi sayangnya saat ini, aku juga belum siap ternyata untuk menerima kamu atau siapapun dalam hidupku. Hatiku masih terlalu sakit mengingat masa laluku, jadi aku harap kamu ngerti perasaanku, Rin!”
“Iya, Fan ! Aku akan coba mengerti, buatku menyatakan perasaanku ini saja kepada kamu itu sudah lebih dari pada cukup, tapi yang aku tidak habis pikir, kenapa kamu harus berhenti bekerja, Fan?”
“Sekarang aku sedang berada di Boarding Pass Soekarno Hatta, sebentar lagi aku akan terbang ke Kuala Lumpur, Malaysia, aku diterima bekerja di sana, Rin!” Penjelasan Refan hanya membuatku mampu menghela nafas dalam. Kenyataan itu memang sangat menyesakkan dadaku.
“Aku pasti akan menemui kamu jika kembali, anggaplah ini sebagai janjiku sama kamu !” Ucap Refan masih di sana coba menenangkan hatiku dengan ucapannya.
“Bener ya, Fan! Aku tunggu kepulangan kamu! Jaga diri kamu baik-baik ya!” Pesanku meskipun terasa getir kuucapkan juga.
“Kamu juga, Rin! Janga nakal-nakal… Hehehe… Semoga suaatu hari nanti hatiku bisa terbuka untuk kamu ya…!” Ucapan Refan itu membuatku tersenyum, suka bergurau juga dia rupanya. Sifat nakalku pun akhirnya muncul…
“Fan, can you give me a kiss before you go? Please…!” Aku memberanikan diri mengatakan itu, karena tak mampu lagi menahan gelora di hatiku.
“Errm, why not? Muaahhhhh…..Muaahhhh…”
“Thank you, my dear….!”
Akhirnya aku terpesona, menerima ciuman mesra dari Refan, seolah bibir manisnya baru saja menempel di pipiku. Aku jadi tersenyum lebar… Kutersanjung!
Lega rasanya semua yang ada di hatiku sudah terungkapkan. Walaupun cintaku terhadap Refan adalah sebuah cinta terlarang, tapi jujur semua itu terlahir begitu saja dari hatiku yang paling dalam. Itulah rahasia hati seorang lelaki yang bernama RINTO HADI KUNTOYO, nama lengkapku!
~~end~~
Komentar
Posting Komentar