Langsung ke konten utama

Sebuah Toples



Harusnya aku memasukkan bola tenis paling dulu. Penyesalan yang sekarang terus menggerogoti masa tuaku. Aku malu tak punya bola tenis, tak punya kelereng seperti orang-orang itu. Seandainya waktu bisa aku putar. Kenapa tidak pernah kumiliki bola tenis dan kelereng-kelereng yang berwarna-warni ke dalam toplesku. Kenapa aku hanya mengisi toplesku dengan pasir pantai hingga 90% penuh. Itu pun bukan pasir pantai yang indah, melainkan pasir pantai yang hitam bercampur air kopi di dalam toples. Ruang di toplesku tinggal sisa 5% yang kusesel-seseli bola tenis tetap saja tidak bisa masuk sepenuhnya ke dalam toples, karena sudah penuh dengan pasir pantai dan tergenang air kopi. Aku membutuhkan bola tenis, aku ingin bola tenis ada dalam toplesku dan aku juga ingin memiliki kelereng di dalam topleskku. Hatiku sakit dicabik-cabik penyesalanku sendiri, tubuhku sakit dicambukki kekawatiran, penyesalan, hidupkku tidak pernah tenang. Topleskku penuh pasir pantai bercampur kopi.
***
Kuisi penuh topleskku dengan warna-warni kelereng, segala macam warna aku punya, merah, kuning, jingga, magenta, hijau, biru, Kristal. Dibanding perempuan lain, koleksiku paling lengkap. Sudah tujuh perlapan, sedikit lagi full. Selama hidup aku selalu fokus pada koleksi kelerengku, indahnya kelereng-kelereng itu membuatku terus berusaha keras untuk mendapatkannya. Koleksi terbaru dan kelereng baru setiap harinya. Aku harus punya, aku mau kelereng lagi. Kusimpan baik-baik dalam toples kesayanganku. Toplesku satu-satunya untuk menyimpan kelereng-kelereng yang sudah kudapatkan dengan susah payah, dengan keringat, dengan segala yang kupunya demi kelereng-kelereng yang indah itu. Sampai suatu hari toplesku kepenuhan, tidak ada ruang lagi untuk menyimpan kelereng-kelereng yang lain, ahhhhhhhhh sudah ganti zaman, sekarang zamannya bola tenis. Bola tenis lebih menarik, lebih besar. Tapi dimana harus kusimpan bola tenisku, toplesku sudah penuh. Terlambat, aku tidak lagi bisa mengikuti zaman. Aku tidak punya bola tenis dalam toplesku. Aku membutuhkan bola tenis, aku ingin bola tenis ada dalam toplesku. Hatiku sakit dicabik-cabik penyesalanku sendiri, tubuhku sakit dicambukki kekawatiran, penyesalan, hidupkku tidak pernah tenang. Topleskku penuh kelereng.
***
Hatiku bahkan tak bisa dicabik lagi, tubuhku sudah sekarat untuk merasakan cambuk kekawatiran. Yang kuingat hanya kata orang, laki-laki sejati adalah pecinta kopi. Itu sebabnya yang kupunya hanya toples penuh air kopi. Padahal yang kubutuhkan adalah bola tenis. Harusnya aku menggunakan toplesku untuk menyimpan bola tenis. Tapi toplesku sudah penuh, berkali-kali bola tenis yang kumasukkan keluar lagi, mengambang dan malah kotor kena air kopi. Aku pernah ingin punya kelereng dan memasukkannya dalam toplesku, tapi aku tak punya uang, dan aku bukan siapa-siapa bahkan untuk memiliki sebuah kelereng pun aku tidak bisa. Banyak orang yang menawariku pasir pantai yang katanya indah itu, pasir pantai yang kalau kena sinar matahari bisa mengkilat bak mutiara. Lalu kumasukkan saja pasir pantai pemberian orang-orang ke dalam toplesku. Tapi yang terjadi malah isi toplesku semakin keruh. Hati dan tubuhku sekarat, bola tenis dan kelereng tak pernah ku dapat.
***
Seorang guru besar di depan audiensnya memulai materi kuliah dengan menaruh toples yang bening dan besar di atas meja. Lalu sang guru mengisinya dengan bola tenis hingga tidak muat lagi.
Beliau bertanya, “Sudah penuh?”
Audiens menjawab, “Sudah penuh”
Lalu sang guru mengeluarkan kelereng dari kotaknya dan memasukkannya ke dalam toples tadi. Kelereng mengisi sela-sela bola tenis hingga tidak muat lagi.
Beliau bertanya, “Sudah penuh?”
Audiens menjawab, “Sudah penuh”
Setelah itu sang guru mengeluarkan pasir pantai dan memasukkannya ke dalam toples yang sama. Pasir pun mengisi sela-sela bola tenis dan kelereng hingga tidak bisa muat lagi. Semua sepakat kalau toples sudah penuh dan tidak ada yang bisa dimasukkan lagi ke dalamnya.
Tetapi terakhir sang guru menuangkan secangkir air kopi ke dalam toples yang sudah penuh dengan bola, kelereng, dan pasir itu. Sang guru kemudian menjelaskan bahwa, “Hidup kita kapasitasnya terbatas seperti toples. Masing-masing dari kita berbeda ukuran toplesnya. Bola tenis adalah hal-hal besar dalam hidup kita, yakni tanggungjawab terhadap Tuhan, orang tua, istri/suami, anak-anak, serta makan, tempat tinggal, dan kesehatan. Kelereng adalah hal-hal yang penting seperti pekerjaan, kendaraan, sekolah anak, gelar sarjana, dan lain-lain. Pasir adalah yang lain-lain dalam hidup kita, seperti olahraga, nyanyi, rekreasi, Facebook, BBM, WA, nonton film, model baju, model kendaraan, dan lain-lain. Jika kita isi hidup kita dengan mendahulukan pasir hingga penuh, maka kelereng dan bola tenis tidak akan bisa masuk. Berarti, hidup kita hanya berisikan hal-hal kecil. Hidup kita habis dengan rekreasi dan hobi, sementara Tuhan dan keluarga terabaikan. Jika kita isi dengan mendahulukan bola tenis, lalu kelereng, dan seterusnya seperti tadi, maka hidup kita akan lengkap, berisikan mulai dari hal-hal yang besar dan penting hingga hal-hal yang menjadi pelengkap. Karenanya harus mampu mengelola hidup secara cerdas dan bijak. Tahu menempatkan mana yang prioritas dan mana yang menjadi pelengkap. Jika tidak, maka hidup bukan saja tidak lengkap, bahkan bisa tidak berarti sama sekali.
Lalu sang guru bertanya, “Adakah di antara kalian yang mau bertanya?”
Semua audiens terdiam, karena sangat mengerti apa inti pesan dalam pelajaran tadi. Namun tiba-tiba seseorang nyeletuk bertanya, “Apa arti secangkir kopi yang dituangkan tadi?”

Sang guru besar menjawab sebagai penutup, “Sepenuh dan sesibuk apa pun hidup kita, jangan lupa masih bisa disempurnakan dengan bersilaturahmi, sambil minum kopi dengan tetangga, teman, sahabat yang hebat. Jangan lupa sahabat lama. Saling bertegur sapa, saling senyum bila berpapasan. Betapa indahnya hidup ini. (Digubah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cantik itu Luka

When reading, we don't fall in love with the characters' appearance. we fall in love with their words, their thoughts, and their hearts. we fall in love with their souls. Semua wanita ingin cantik. Itu adalah keinginan yang paling sederhana di dunia ini bagi seorang wanita. Barulah kemudian, impian kedua mereka adalah menjadi seorang pengantin. Memang terlihat sederhana walau sebenarnya untuk mendapatkan hal itu melalui serangkaian hal yang rumit. Nah, kerumitan inilah yang bikin wanita memiliki julukan sebagai “mahkluk paling ribet”.  Telah dua puluh tahun berlalu sejak kematiannya, ketika Dewi Ayu bangkit dari kuburnya dan berjalan kembali menuju rumah yang dahulu dihuninya bersama Roshina, tempat dimana ia meninggalkan anak terakhirnya yang ia tinggal mati atas kehendaknya sendiri. Dewi Ayu memang menginginkan kematian, sampai-sampai ia sengaja berbaring terlentang berbalutkan kain kafan untuk menunggu waktu kematiannya, dan sepertinya pemilik alam semesta m...

Gara-Gara Ojek online

Guys,   Kamu jangan pernah ngeremehin kebaikan km sekecil apa pun.   Karena sekecil apa pun kebaikan km pasti bermanfaat buat orang lain.   Beberapa waktu yg lalu di stasiun, saya pernah disamperin sama seorang cewek. Dia minta tolong ke saya buat mesenin kendaraan online kerena hp nya kehabisan batere. Waktu itu yg ada di pikiran saya cuma, ya kasihan, udah malem, sendirian, perempuan, sedikit gerimis, dan dia mau pulang.   Langsung saya pesenin dan ngk lama langsung dapet driver.   Dia keliatan seneng dan bisa pulang. Bukannya saya nginget-nginget kebaikan saya sendiri ya, tp intinya kalo baik ya nggak usah mikir dua kali. Karena km nggak pernah tau kapan km ada di posisi yang mungkin perlu bantuan orang lain. Tp waktu km nggak dapetin sesuai sama apa yg udah km lakuin, km juga tetep harus baik. Intinya ambil yang baik-baiknya aja.  Because you are better than you think. Jadi pas km ngerasain hal yg nggak baik, km bakalan senyum-senyum aja....